Rabu, 15 Desember 2010

Character Building Suatu Keniscayaan

 

Membangun karakter adalah naluri dasar diilhamkan pada orangtua atau generasi tua kepada penerus keturunannya. Setiap bangsa, agama atau apapun latar belakangnya ada nilai2 kebaikan yang berkembang dari zaman ke zaman sebagai kontribusi warisan moral. Lalu apa urgensinya Character Building pada suatu bangsa atau unit terkecil Keluarga?

Character Building Atau Kehancuran Bangsa

Berasal dari kosa yunani “Charassein” berarti “Mengukir.” Membentuk Karakter diibaratkan mengukir diatas batu permata atau permukaan sangat keras. Dari arti ini berkembang pengertian karakter sebagai “tanda khusus” atau “pola perilaku” suatu individu. Dalam perspektif Islam pengertian seperti ini dikenal sebagai “Akhlaq” yang akan dibahas dalam tulisan tersendiri, Insya Allah.

Thomas Lickona, Pendidik Karakter terkenal dari Cortland University dan ide-idenya diterapkan di level pendidikan Dasar dan Menengah di Amerika menyatakan :  “Sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran, jika memiliki 10 tanda zaman : 1).   Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja.   2).   Budaya ketidakjujuran   3).   Sikap fanatik kepada kelompok (peer group).   4).   Rendahnya rasa hormat kepada orangtua dan guru   5. Semakin kaburnya nilai moral baik dan moral buruk   6).   Meningkatnya perilaku merusak diri (alkohol, sex bebas dan zat adiktif)   7.   Penggunaan Bahasa yang buruk   8).   Rendahnya rasa tanggungjawab sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat   9).   Menurunnya ethos kerja.  an terakhir   10).   Berkembangnya rasa saling curiga dan kurangnya kepedulian di antara mereka.”             

Menurut Lickona, orang yang berkarakter sebagai sifat alami pribadi seseorang dalam merespon suatu situasi secara bermoral. Kemudian dimanifestasikan dalam bentuk aksi nyata berupa perilaku baik sesuai nilai moral yang baik dan menjadi “habit” atau kebiasaan.

Secara singkat dia menekankan 3 hal dalam Character Building : Knowing, Loving and Acting the Good.  Yaitu dimulai dari 1).   Pemahaman Karakter Baik,   2).   Mencintai Karakter yang Baik   3).   Pemberian keteladanan atas karakter yang baik tersebut.

Titik lemah Character Building pendidikan umum Indonesia adalah menggunakan pendekatan Kognitif – berorientasi transfer pengetahuan semata dan bagi si Murid hanya hafalan untuk perolehan nilai akademik.  Sangat miskin keteladanan dan pengabaian observasi perubahan perilaku Anak Didik. Sehingga ada gap antara pengajaran moral dengan perilaku buruk.

Pendidik sendiri, mata pelajaran apapun yang diajarkan, harus memberi keteladanan karakter, perilaku dan moralitas yang baik. Sebab jika tidak pepatah klasik berubah menjadi : “Guru Kencing Berlari, Murid pun Sanggup Mengencingi Gurunya,”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Realtime News

About This Blog

Blog ini hadir di hadapan Anda di tengah kegalauan merasakan betapa sulitnya mendidik dan membentuk kepribadian putra-putriku dengan nilai agama dari kebeningan sumber mata-airnya, wise and wisdom dari kejernihan lubuk sanubari dan tetap disemati the burning spirit of jihad sementara ia tetap dapat menjalani kehidupannya seperti ikan yang (daging) tetap tawar meskipun hidup dalam asinnya air laut. Oh ... ! Yaaa ... ayuhai ... anak! Yaaa ... ayuhai ... bunayya!

Sharing of Stories and Humours

Alexa

Takaful Indonesia

Klik :: PRODUK TAKAFUL

Terimakasih

Alexa Takaful

Berlangganan artikel :


ShoutMix chat widget

Pengikut